Yogyakarta kota budaya

Artikel Grand Tjokro Premiere

image

Yogyakarta Kota Budaya

Tidak dapat dipungkiri Yogyakarta dengan segala keunikannya menjadi daya tarik yang besar bagi masyarakat di luar Yogyakarta. Hal ini tidak lepas dari sejarah asal mula Yogyakarta itu sendiri. Ada empat kraton di Jawa yang menjadi pusat budaya Jawa, yaitu Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Pura Mangkunegaran. Sebelum kemerdekaan keempat kraton tidak hanya sebagai pusat budaya dan kegiatan kesastraan tetapi juga sekaligus pusat pemerintahan. Setelah Perang Dunia II (1945) kerajaan-kerajaan  melebur menjadi republik. Kraton kemudian menjadi objek wisata yang menarik.

Sejak ibukota RI pindah ke Yogyakarta tanggal 4 Januari 1946, maka Yogyakarta bukan saja pusat pemerintahan Republik Indonesia, akan tetapi juga menjadi pusat kegiatan seniman. Pada tahun 1946 itu, Afandi bersama beberapa pelajar pejuang mendirikan sanggar seniman masyarakat. Dalam perkembangannya, bersama Sujiyono, Rusli, Haryadi, Sudiargo, Basuki Resobowo, Kartono Yudokusumo, Esman Effendi mendirikan Seniman Indonesia Muda. Tujuan didirikannya Seniman Indonesia Muda adalah ikut serta bertempur di garis depan. Seniman Indonesia Muda diketuai oleh S. Sujoyono. Sanggar terletak di tepi Alunalun Utara Yogyakarta untuk kegiatan latihan melukis bersama kawan-kawannya.

Pada tahun 1948 ada sebuah majalah seni rupa yang dikelola oleh tentara pejuang dengan nama “Potret Kulit”. Dari sinilah karya-karya tokoh pejuang  yang tergabung dalam Seniman Indonesia Muda menjadi signifikan dengan perjuangan Indonesia karena ikut memberikan kontribusi melalui lukisan, karikatur, lagu-lagu, dan puisi yang bernafaskan perjuangan. Produk-produk seni karya pelajar pejuang yang berperan besar pada masa perang kemerdekaan meliputi karya sastra.

Di awal abad 21 kehidupan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta semakin semarak dan menjadi penting dalam promosi kepariwisataan Indonesia, khususnya Yogyakarta. Berbagai produk seni pertunjukan, seni rupa, seni musik, kuliner, kerajinan, kearifan lokal menjadi aspek yang tidak kalah menarik untuk terus digali dan direvitalisasi.

Lebih mudah terasa kota budaya ini jika berkunjung langsung ke Yogyakarta. Apabila anda memutuskan untuk menginap lebih dari satu hari akan terasa cocok jika anda menginap di hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Tjokro Style Yogyakarta

Berjarak 10 menit berkendara dari kawasan Malioboro, Kotagede, dan Prawirotaman, Tjokro Style Yogyakarta menawarkan layanan antar gratis ke Jalan Malioboro setiap hari dari pukul 10:00 hingga 16:00. Hotel ini menyediakan kolam renang outdoor, akses Wi-Fi gratis di seluruh areanya, dan meja depan 24 jam. Properti ini hanya berselang 5 menit jalan kaki dari XT Square dan 20 menit berkendara dari Bandara Adisucipto.

Kamar-kamar ber-AC yang cerah menawarkan TV satelit, brankas pribadi, dan fasilitas membuat teh/kopi. Kamar mandi dalamnya dilengkapi dengan shower, pengering rambut, dan sandal.

Staf Tjokro Style Yogyakarta yang ramah dengan senang hati membantu Anda mengatur layanan binatu, dry cleaning, dan menyetrika. Layanan pramutamu dapat membantu Anda dengan parkir valet, penitipan bagasi, dan brankas. Fasilitas lain yang ditawarkan meliputi ruang rapat, pusat bisnis dengan mesin faks/fotokopi, serta penukaran mata uang. Pijat yang menyegarkan dapat Anda nikmati di spa dan pusat kesehatan, dan Anda juga dapat berolahraga di gym.

Anda dapat menikmati sarapan prasmanan dengan menu kontinental serta hidangan Barat dan Indonesia yang lezat di Citrus Restaurant, sedangkan makanan ringan dan kopi dapat dinikmati di Apricot Coffee Bar. Beragam minuman sehat dapat Anda cicipi di Celery Juice Bar. Pilihan tempat bersantap lainnya dapat ditemukan dalam 3 menit berjalan kaki.

 

BOOK NOW!