AUTISME DAN KECANDUAN GADGET

Artikel Grand Tjokro Premiere

image

AUTISME DAN KECANDUAN GADGET

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata, “autis”?

Apakah kondisi ketika anak asyik berselancar di ponsel pintarnya hingga mengabaikan orang-orang di sekitarnya? Atau anda langsung teringat gangguan perkembangan serius yang mengganggu kemampuan berkomunikasi seseorang? Kalau iya, anda perlu membaca tuntas artikel ini.

Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan syaraf yang memengaruhi perilaku, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi penderitanya. Autis juga membuat penderita kerap membatasi minatnya pada sesuatu hal. Autisme memiliki tingkat permasalahan yang bervariasi setiap penderitanya. Sebenarnya, ciri-ciri autism pada anak sudah terlihat ketika masih bayi, tapi akan semakin jelas terlihat ketika anak sudah memasuki usia 2-4 tahun. Meski demikian, pada beberapa kasus, penderita autisme berhasil disembuhkan melalui metode terapi dan pola makan.

Sedangkan keadaan ketika anak terlalu asyik dengan ponsel jelas bukan termasuk pada kondisi autisme. Sejak pandemi, gawai memiliki peran penting dalam kelangsungan  proses belajar-mengajar yang dilakukan secara daring. Selain digunakan untuk belajar, di ponsel pintar pun kita bisa mengunduh banyak aplikasi edukasi untuk anak, mulai dari aplikasi belajar mengenal warna,belajar mengeja, belajar mengaji, sampai dengan bimbingan belajar. Namun, gadget juga bak pedang bermata dua yang memiliki sisi baik dan buruk. Berikut beberapa dampai negatif gawai pada anak-anak :

  1. Gangguan kesehatan mata

Anak yang terlalu sering bermain gawai rentan terpapar sinar biru dari layar ponsel. Akibatnya, anak-anak berisiko mengalami mata lelah, mata kering, hingga gangguan pengelihatan.

  1. Gangguan tumbuh kembang otak

Stimulasi lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan otak anak. Oleh sebab itu stimulasi berlebihan dari gawai  mengakibatkan gangguan kognitif (daya ingat, bahasa, daya tangkap dan konsentrasi), tantrum (rewel), menurunnya kemampuan kemandirian anak, serta meningkatkan sifat impulsif pada anak.

  1. Gangguan kesehatan mental

Selain gangguan fisik, penggunaan gadget secara berlebihan pada anak juga memengaruhi kesehatan mental anak, di antaranya : depresi, psikosis, kelainan bipolar dan permasalahan mental lainnya.

Lantas bagaimana jika anak sudah terlanjur kecanduan gawai? Anda bisa melakukan beberapa langkah untuk menghentikannya. Mulailah dengan menyimpan gadget di tempat yang tidak diketahui oleh anak dan berilah batasan penggunaan gadget pada anak, misalnya : 1-2 jam dalam sehari. Dalam hal ini anda juga perlu melakukan pengawasan agar anak tidak memainkan gawai di luar sepengetahuan anda.

Orang tua merupakan panutan bagi anak. Apa yang kita lakukan kerap ditiru oleh mereka. Oleh sebab itu anda juga perlu memberi contoh pada anak dalam hal penggunaan ponsel pintar. Anda perlu mengatur waktu secara bijak dalam menggunakan gawai ketika bersama anak.

            Jika anak mulai didera rasa bosan karena kehilangan waktu bermain gadget, anda bisa menjadi mama kreatif dengan mengatur permainan yang bisa anda lakukan bersama anak. Usahakan permainan yang membuat anak banyak bergerak. Anda juga bisa memilih permainan di luar ruangan. Beberapa contoh permainan yang bisa anda lakukan dengan anak yaitu :

  1. ABC lima dasar

Bagi anda yang lahir di era 80 atau 90 pasti tidak asing dengan permainan ini. Bermain ABC lima dasar sangat mudah dan tidak membutuhkan alat. Anda bisa memainkan games ini dengan jemari anda dan Si Kecil. Melalui permainan ini, anda bisa menambah pengetahuan anak-anak tentang hewan, nama negara, nama kota, dan sebagainya.

  1. Petak Umpet

            Selain seru, permainan petak umpet juga memiliki manfaat baik secara emosional, intelektual, maupun sosialnya. Sama seperti permainan ABC lima dasar, bermain petak umpet juga tidak memerlukan banyak peralatan. Jika anda memiliki rumah yang luas, anda bisa memakai ruangan-ruangan di rumah anda sebagai tempat persembunyian. Namun, jika rumah anda tidak terlalu luas, anda bisa memanfaatkan belakang pintu, belakang sofa atau bersembunyi di balik lemari.

  1. Bermain bola

            Permainan ini sebaiknya di lakukan di luar ruangan demi menghindari bola menghantam benda pecah belah. Anda bisa mengajak anak bermain di halaman rumah atau taman di dekat rumah.

  1. Bersepeda

            Jika anak anda memiliki sepeda, ada baiknya anda memanfaatkannya. Bersepeda terbukti mampu meningkatkan metabolisme tubuh, membangun otot  dan membakar lemak tubuh.

            Namun, jika anda memiliki anak berusia dua tahun, anda bisa mengajaknya memainkan permainan yang menunjang pendidikan anak usia dini. Beberapa permainan ini bisa anda coba lakukan di rumah :

  1. Menyusun puzzle

            Puzzle ternyata bisa menstimulasi kedua bagian otak anak, loh, karena di dalam permainan puzzle anak akan dilatih memorinya. Anak juga bisa mengasah kemampuan visuospasial (suatu keahlian yang berhubungan dengan persepsi dan hubungan ruang). tidak hanya itu, permainan puzzle terbukti dapat mengasah kemampuan motorik halus anak.

  1. Menyusun balok

            Dalam permainan ini anak dilatih mengenal konsep yang ada pada balok, misalnya : warna, ukuran dan bentuk balok. Selain itu, anak juga dilatih kesabarannya karena permainan ini membutuhkan ketelitian untuk menyusunnya.

            Selain permainan di atas, masih banyak lagi permainan menyenangkan yang bisa anda lakukan bersama Buah Hati. Berikut beberapa rekomendasi buku parenting untuk anda :

  1. Ayah Bunda, Kapan Kita Bisa Bermain Bersama karya Sya’ban Jamil
  2. Permainan Anak Usia Dini karya Mas Kelik
  3. Mother’s Journey karya Sarah Fransisca

BOOK NOW!